Jumat, 20 Desember 2013

gebyar pagaralam

SEJARAH TERBENTUKNYA KOTA PAGARALAM

 

Sejarah Terbentuk


 terbentuknya Kota Pagar Alam sebagai Kota Administratif terinspirasi dengan dikeluarkannya peraturan Presiden RI Nomor 22 tahun 1963 tentang penghapusan Karesidenan, maka secara otomatis tidak ada lagi pemerintahan Kawedanaan Tanah Pasemah (Kecamatan Tanjung Sakti, Kecamatan Jarai, Kecamatan Kota Agung dan Kecamatan Pagar Alam sebagai Ibukota Kawedanaan).   
      Selanjutnya proses demi proses sampai akhirnya lahirlah Kota Pagar Alam Kota Administratif dengan diterbitkannya peraturan Pemerintah dengan Nomor 63 tahun 1991 tentang Pembentukan Kota Administratif dengan pemekaran wilayah 4 (empat) Kecamatan. 
     Setelah melalui perjuangan yang cukup menyerap pikiran dan tenaga, akhirnya ditetapkan Undang – Undang Nomor 8 tahun 2001 tanggal 21 Juni 2001 tentang pembentukan Kota Pagar Alam, dan puncak seremonial Kota Pagar Alam, sebagai Kota Otonom terjadi dengan diresmikannya Kota Pagar Alam oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden RI pada tanggal 17 Oktober 2001. Selanjutnya pada tanggal 12 November 2001 Gubernur Sumatera Selatan atas nama Menteri Dalam Negeri melantik Drs. H. Djazuli Kuris melaksanakan pelantikan perdana perangkat Pemerintah Kota Pagar Alam pada tanggal 7 Januari 2002.

WISATA SEJARAH KOTA PAGARALAM

      Wilayah Pagaralam Sumsel bisa jadi merupakan wilayah dengan peradaban tua. Rumah batu, artefak yang dibangun sejak ribuan tahun sebelum masehi kembali ditemukan di wilayah tersebut.
Rumah batu ditemukan di Dusun Merangin RT 02 RW 01 Kelurahan Pagar Wangi Kecamatan Dempo  Utara, Pagaralam. Rumah batu merupakan salah satu peninggalan tradisi megalitikum di
Bukitbarisan Pasemah.
     Di dalam rumah batu ini terdapat berbagai lukisan  kuno. Baik menggambarkan binatang maupun manusia. Rumah batu, patung,  maupun bukti-bukti artefak lainnya di Pagaralam, berdasarkan penelitian  para arkeolog Indonesia maupun asing diperkirakan telah ada sejak
sekitar 2.000 tahun Sebelum Masehi.
      “Sayangnya banyak tangan jahil yang merusak rumah batu ini, bermaksud  untuk “tarak” meminta sesuatu kepada yang dimaksud. Bisa dilihat atapnya  sudah ada yang hilang,” kata Saman, warga setempat kepad pers di lokasi,  Selasa (25/1/2011).
       Rumah batu ini berada persis di tengah-tengah kebun kopi milik warga  setempat. Diperkirakan panjang rumah batu ini kurang lebih 2 meter, dan  sekitar 1 meter serta tinggi kurang lebih 1 meter.
       Terdapat 1 pintu dengan daun pintu sebanyak tiga buah. Lantainya tentu  saja masih tanah, dengan tiang, dinding serta atap rumah terbuat dari  batu yang berbentuk lempengan. Ruang di dalam rumah batu ini hanya cukup  untuk dua orang dewasa.
      Aryadi, Ketua RW 01 dusun setempat mengatakan bentuk rumah batu ini
persis dengan rumah batu yang berada di situs megalit batu beghibu, yang
sudah dirawat pemerintah saat ini.
       Sementara Kepala dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Pagaralam
Syafrudin, mengatakan selama tahun 2010 lalu sudah banyak yang
benda-benda purbakala yang ditemukan di Pagaralam, “Tahun ini akan lebih
banyak lagi ditemukan,” katanya.

Warga Temukan Gua Zaman Mesolitik

Kota Pagar Alam,
Gua Zaman Mesolitik,
Warga Dusun Talang Kubangan, Kelurahan Lubuk Buntak, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan, menemukan gua batu diperkirakan dari zaman Mesolitikum. Kondisi gua yang berada di daerah tebing terjal dan hutan rimba ini, memiliki dua pintu masuk dan tiga lantai menyerupai hamparan batu asahan. Namun kondisi ruangan sudah banyak menyempit, tertimbun reruntuhan batu akibat faktor alam. Demikian juga dengan sejumlah tulisan dan ukiran menyerupai tapak manusia yang sudah tertutup timbunan batu, sehingga sulit untuk dilihat dengan jelas. Namun lantai pintu masuk masih cukup rapi, dipenuhi dengan susunan pecahan batu mirip dengan pecahan genteng. Supaya bisa masuk ke dalam ruangan sepanjang sekitar 25 meter ini, hanya dapat dilalui satu orang, mengingat lebar ruangan hanya sekitar 50-70 centimeter. “Penemuan gua batu yang berada di dalam hutan belukar sekitar 50 meter dari lokasi perkebunan kopi, dan warga setempat lebih mengenal dengan ’Gue Rie Tabing’. Sebetulnya gua ini dahulunya cukup rapi dan semua ruangan masih dapat dimasuki termasuk guratan berupa tapak kaki manusia yang berada di lantai dua gua tersebut, tapi akibat faktor alam semuanya sudah rusak,” kata Manto, Ketua RW 04 Dusun Talang Kubangan, Kecamatan Dempo Selatan. Sekitar gua ini cukup banyak bebatuan cadas dan jurang dengan kedalaman mencapai ratusan meter, termasuk batu hamparan, dan ada juga bertuliskan seperti garis-garis. “Gua ini dahulunya menurut cerita sesepuh daerah ini pernah dihuni pertapa Rie Tabing Gua, memiliki dua pintu ukuran lebar 50-70 centimeter dan tinggi 170 cm, dengan tujuh ruangan termasuk yang berada di bawah tanah,” ujar dia. Namun untuk mengetahui isi dan kondisi ruangan, dibutuhkan orang yang ahli, karena kami tidak bisa masuk ke dalam ruangan bawah tanah sedalam dua meter tersebut,” kata dia lagi. Kalau melihat kondisi fisik batu termasuk membandingkan dengan bebatuan di perbukitan itu, tidak mungkin kondisi gua tersebut terjadi dengan sendirinya akibat faktor alam. Selain itu, semua ruangan tersusun rapi dan pada lantai untuk masuk ke setiap ruangan dihiasi dengan pecahan batu yang tersusun rapi. Pada ruangannya juga ada yang bertingkat, seperti tempat tidur terbuat dari batu pula. “Sebetulnya di daerah ini cukup banyak peninggalan sejarah puyang atau nenek moyang dahulu, tapi karena warga tidak mengerti sehingga dibiarkan dan hanya menjadi cerita setiap ada pertemuan. Baru setelah diungkap lewat media oleh ahlinya tenyata memiliki nilai sejarah yang tinggi,” kata dia. Ketua RT 010 Talang Kubangan, Firman, menyebutkan pula bahwa di sekitar daerah seluas 50 hektare itu banyak terdapat peninggalan nenek moyang zaman dahulu, seperti batu tapak kaki, batu bertulis, gua dan tempat tidur batu. Hanya saja karena ketidaktahuan masyarakat, penemuan ini hanya menjadi bahan cerita dan sejarah sakral masa lalu, kata dia lagi. Peneliti dari Balai Arkeologi Palembang, Kristantina Indriastuti, mengatakan bahwa penemuan itu cukup luar biasa dan menghebohkan, karena selama ini hunian masa Paleollitikum diketahui hanya ada di daerah Kecamatan Kikim, Lahat, dan temuan peninggalan zaman Mesolitikum berupa gua di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Menurut dia, secara sepintas karena lantai gua kering, kemungkinan bisa digunakan untuk hunian di masa lalu. Namun perlu dilakukan penelitian lebih lanjut, ujar dia, untuk menemukan lapisan budaya adanya aktivitas pendukung manusia yang hidup di gua tersebut pada masa lalu, seperti sisa-sisa arang, subsistensi (aktivitas mencari makanan), aktivitas penguburan, perbengkelan, pembuatan alat batu, dan peralatan manusia zaman batu, termasuk peralatan berupa kapak batu, serpih, serut, dan alat-alat lainnya. “Apabila melihat wilayah Sumsel yang mempunyai pegunungan kapur atau karst, seperti Bukit Barisan, sangat memungkinkan adanya aktivitas kehidupan gua, seperti yang sudah ditemukan di wilayah karst Desa Padang Bindu, Kabupaten OKU,” kata Kristantina pula. Terdapat sekitar 13 gua hunian dan di wilayah karst dataran tinggi Kerinci di Provinsi Jambi, dan untuk menjaga kelestarian dan keasliannya perlu dukungan dari masyarakat sekitar serta pendataan oleh Balai Pelestarian dan Perlindungan Purbakala (BP3) Jambi, kata dia.
 
 
sumber :  http://boyherdiansyah.blogspot.com/2012/12/sejarah-terbentuknya-kota-pagaralam.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar